Selasa, 17 Maret 2009

jadwal pelatihan hipnoterapy bulan maret

Yth Bapak / Ibu,

Salam sehat dan sukses. Berikut ini agenda pelatihan oleh bapak Yan Nurindra yang akan diadakan pada bulan Maret 2009.


// JAKARTA //
14 Maret 2009 :: Hypnotherapy Fundamental
15 Maret 2009 :: Advanced Hypnotherapy
21 Maret 2009 :: Prana Shakti Dharana (Level 1)
22 Maret 2009 :: Meditasi Avatar

// BANDUNG //
18 Maret 2009 :: Self Hypnosis
28 Maret 2009 :: Hypnotherapy Fundamental
29 Maret 2009 :: Prana Shakti Dharana (Level 1)

Terima kasih & Salam,
Yan Nurindra & Associates

jadilah milioner

Wednesday, February 18, 2009

Slumdog Millionaire


I finally found an oppurtunity to see Danny Boyle's last movie Slumdog Millionaire. Since there were many positive critics and Danny Boyle was one of my favorite directors with his hit movie Trainspotting, i had great expectations before watching the movie. I guess because of these facts i found it a little overrated. But nevertheless I recommend this movie to everyone.


This movie is already announced as the movie of the year by many movie critics with its screenplay, editing and most of all never slowing tempo. Slumdog Millionaire won 4 Golden Globes including Best Motion Picture and best director categories. It has another 26 wins from different festivals like British Independent Film Awards, Chicago Film Critics Association Awards, Los Angeles Film Critics Association Awards and National Board of Review.

Slumdog Millionaire tells the story of an orphan from the Mumbai slums who is one question away from winning the jackpot on "Who Wants to be a Millionaire" when he is arrested on suspicion of cheating. The screenplay is adapted from the novel of Vikas Swarup, which is considered as a good piece of literarture as well. I should mention that the original sound track of the movie composed by A.R. Rahman, has some cool tracks.

Friday, February 13, 2009

How To Build A Successful Blog

Today, I would like to give you some advice on building a successful blog.

1. The first important thing is to place an unforgettable image to the header of your blog. This will make a lasting impression on first time visitors.

2. Secondly and most importantly, write posts that are orginal. You need to have content that will take people's interest. You must remember not to copy content from other sites or sources while writing your posts related to the topic or category of your blog.

3. You need to have one topic or category selected for your blog. Please try your best to publish your posts related to this one topic/category. Write a lot of posts and explanations regarding this topic. Try to read and reply all comments written for your posts. You can also visit other blogs and write comments for the posts giving the URL of your blog just to bring more readers to your blog on related topics.

4. Adding an image or a visual element to your posts will help you to describe what you are saying in a better way and in a better theme, but don't add to many images since it may ruin your focus on content and load times.

Keeping your blog active is another thing you must keep in mind. Be sure to write few times a week, leaving your blog without making any updates will hurt your Search Engine Optimisation.

J

Tuesday, February 3, 2009

Rafa in 5

Hi there,

Last weekend there was an historic competition in Australia between Rafael Nadal and Roger Federer, Rafael Nadal became the first male Spaniard ever to win Australian Open in a final that lasted 4.23 hours. There was a huge lead up, by thousands of fans, to the final at Melbourne Park between Rafa and Roger Federer since these were two of the greatest tennis champions of all time. Rafa was looking for his 6th Grand Slam victory in 17 appearences and Roger was looking for his 14th title which is the record-equalling one with Pete "Pistol" Sampras. It was amazing to see these two champions giving their best to win the title in a game that lasted 5 sets.

Rafa won this exciting the game 7-5, 3-6, 7-6, 3-6, 6-2. Federer was unable to speak, he tried to force back the tears but couldn't manage. Rafa is winning majors at a faster rate than Federer at the same age, faster than anyone except Bjorn Borg. Rafa now has a chance to make a calender Grand Slam, which can be a historical achievement since there are only 2 players who have done this before. (Don Budge 1938 and Rod Laver 1962&1969). In this modern era there is only one player who completed a Career Grand Slam on four different surfaces: Andre Agassi.

This game will be one of the classics but will not beat the final they played at Wimbledon last year which is considered to be the greatest game in history.

J

Jumat, 27 Februari 2009

Menelusuri kecemasan pada remaja



Oleh : M.Nasrudin

Jakarta, 28 februari 2009

Bayak orang tua yang merasa tercengan dengan perubahan drastis yang dialami oleh putra-putrinya, kenapa mereka yang dulunya lucu. Tiba-tiba menjadi individu yang benar-benar berbeda dan sering menjengkelkan bahkan tidak dipahami lagi oleh orang tuanya, itulah remaja.

Period of storm and stress

Banyak alasan mengapa masa remaja menjadi sorotan yang tidak lekang waktu. Psikologi sendiri memandang periode ini sebagai periode yang penuh gejolak dengan menamakan period of storm and stress. Arnett menarik tiga tantangan tipikal yang secara general biasa dihadapi oleh remaja; (1) konflik dengan orangtua, (2) perubahan mood yang cepat, dan (3) perilaku beresiko (dalam Laugesen, 2003)

Peran teman sebaya yang mulai ‘menggeser’ peran orangtua sebagai kelompok referensi tidak jarang membuat tegang hubungan remaja dan orangtua. Teman sebaya menjadi ukuran bahkan pedoman dalam remaja bersikap dan berperilaku. Meskipun demikian studi Stenberg menemukan bahwa teman sebaya memang memiliki peran yang penting bagi remaja, namun pengaruh teman sebaya cenderung pada hal-hal yang berhubungan dengan gaya berpakaian, musik dan sebagainya. Sementara untuk nilai-nilai fundamental, remaja cenderung tetap mengacu pada nilai yang dipegang orangtua termasuk dalam pemilihan teman sebaya, biasanya juga mereka yang memiliki nilai-nilai sejenis (dalam Perkins,2000).

Benarkah demikian? Agaknya para orangtua harus berbesar hati dan membuka diri agar tidak tertipu oleh model rambut, mode pakaian, musik yang berdebum di kamar remaja, juga gaya bahasa yang tidak jarang membuat telinga terasa penuh. Kedekatanlah yang bisa membuka mata dan hati untuk melihat lebih jernih nilai-nilai yang sebenarnya dipegang remaja. Bukankah penemuan Stenberg menjadi angin segar dan harapan yang menggembirakan di mana orangtua atau keluarga tetap menjadi model utama. Hanya penampilan tentu tidak selalu sama, era digital bukankah membawa berjuta pilihan? Tidak hanya bagi remaja, tetapi juga orangtua.

Mood yang naik turun juga sering terdengar dari celetukan remaja, “Bete niiih..” Ada dua mekanisme di mana mood mempengaruhi memori kita. (1) Mood-dependent memory ,suatu informasi atau realita yang menimbulkan mood tertentu, atau (2) Mood congruence effects, kecenderungan untuk menyimpan atau mengingat informasi positif kala mood sedang baik, dan sebaliknya informasi negatif lebih tertangkap atau diingat ketika mood sedang jelek (Byrne & Baron, 2000). Bisa dibayangkan bagaimana perubahan mood yang cepat pada remaja terkait dengan kecemasan yang mungkin terbentuk.

Remaja juga mempunyai reputasi berani mengambil resiko paling tinggi dibandingkan periode lainnya. Hal ini pula yang mendorong remaja berpotensi meningkatkan kecemasan karena kenekatannya sering mengiring pada suatu perilaku atau tindakan dengan hasil yang tidak pasti. Keinginan yang besar untuk mencoba banyak hal menjadi salah satu pemicu utama. Perilaku nekat dan hasil yang tidak selalu jelas diasumsikan Arnett membuka peluang besar untuk meningkatnya kecemasan pada remaja (dalam Laugesen, 2003)

Empat model kognitif bagi kecemasan remaja

Laugesen (2003) dalam studinya tentang empat model kognitif yang digagas oleh Dugas, Gagnon, Ladouceur dan Freeston (1998) menemukan bahwa empat model kognitif tersebut efektif bagi pencegahan dan perlakuan terhadap kecemasan pada remaja. Kecemasan merupakan fenomena kognitif, fokus pada hasil negatif dan ketidakjelasan hasil di depan. Hal ini didasari dari definisi Vasey & Daleiden (dalam Laugesen,2003) berikut;

Worry in childhood and adolescence has been defined as primarily an anticipatory cognitive process involving repetitive, primarily verbal thoughts related to possible threatening outcomes and their potential consequences.”

Empat model kognitif itu ialah (1) tidak toleran (intoleransi) terhadap ketidakpastian, (2) keyakinan positif tentang kecemasan, (3) orientasi negatif terhadap masalah, serta (4) penghindaran kognitif.

Pemahaman tiap variabel tersebut;

(1) intoleransi terhadap ketidakpastian merupakan bias kognitif yang mempengaruhi bagaimana seseorang menerima, menginterpretasi dan merespons ketidakpastian situasi pada tataran kognitif, emosi dan perilaku;

(2) sejumlah studi menunjukkan bahwa orang yang meyakini bahwa perasaan cemas dapat membimbing pada hasil positif seperti solusi yang lebih baik dari masalah, meningkatkan motivasi atau mencegah dan meminimalisir hasil negatif, dapat membantu mereka dalam menghadapi ketakutan dan kegelisahan;

(3) orientasi negatif terhadap masalah merupakan seperangkat kognitif negatif yang meliputi kecenderungan untuk menganggap masalah sebagai ancaman, memandangnya sebagai sesuatu yang tidak dapat dipecahkan, meragukan kemampuan diri dalam menyelesaikan masalah, menjadi merasa frustrassi dan sangat terganggu ketika masalah muncul;

(4) penghindaran kognitif dikonsepsikan dalam dua cara, yakni (a) proses otomatis dalam menghindari bayangan mental yang mengancam dan (b) strategi untuk menekan pikiran-pikiran yang tidak diinginkan.

Studi Laugesen (2003) secara khusus menunjukkan dua hal penting yang bisa menjadi acuan; (1) intoleransi terhadap ketidakpastian dan orientasi negatif terhadap masalah merupakan target utama baik dalam pencegahan maupun perlakuan pada kecemasan yang berlebihan dan tidak terkendali pada remaja, (2) intoleransi terhadap ketidakpastian juga menjadi konstruk utama dalam kecemasan remaja. Hal lain yang sangat menarik dalam temuan Laugesen adalah intoleransi pada remaja berkorelasi dengan persepsi tentang tugas ambigu, namun tidak dengan kecemasan. Hal ini menunjukkan bahwa intoleransi dan kecemasan sebagai konstruk yang unik.

Intoleransi menjadi kunci penting dalam memahami kecemasan pada remaja. Secara logika bisa dipahami bahwa ketidakmampuan individu dalam menerima ketidakpastian sebagai salah satu kenyataan yang akan dihadapi cukup menggambarkan diri orang tersebut. Hal ini juga menarik untuk kembali melirik teori dan studi tentang diri. Laugesen (2003) juga menguji tingkat kecemasan (tinggi dan rendah), di mana intoleransi tetap berperan di dalamnya. Remaja atau individu yang bagaimana tepatnya yang berpeluang untuk mengalamai kecemasan tinggi, tidak terkendali, atau yang wajar?

Siapa Anda? Siapa saya?

Pada model kognitif orientasi negatif pada masalah, individu juga memiliki kecenderungan untuk meragukan kemampuan diri dalam menyelesaikan masalah yang datang. Hal ini menunjukkan peran self-efficacy dalam pembentukkan rasa cemas. Bandura (dalam Brown, 2005) menyatakan self-efficacy sebagai “a belief that one can perform a specific behavior,” dan “Self-efficacy is concerned not with the skills one has but with judgement of what one can do with whatever skills one possesses.” Individu dengan self-efficacy tinggi meyakini bahwa kerja keras untuk menghadapi tantangan hidup, sementara rendanhya self-efficacy kemungkinan besar akan memperlemah bahkan menghentikan usaha seseorang.

Pencarian identitas menjadi salah satu aikon pada masa remaja. Hal ini membawa kita untuk menelisik lebih jauh tentang self-concept yang ada maupun yang sedang terbentuk. Konsep diri merupakan cara individu memandang dirinya sendiri. Baron & Byrne (2000) merumuskan sebagai berikut, “self concept is one’s self identity, a schema consisting of an organized collection of beliefs and feelings about oneself.” Konsep diri berkembang sejalan dengan usia, namun juga merespons umpan balik yang ada, mengubah lingkungan seseorang atau status dan interaksi dengan orang lain. Pertanyaan “Siapa Anda? Siapa saya?” menjadi inti studi psikologi tentang konsep diri. Rentsch & Heffner (1994, dalam Byrne & Baron, 2000) menyimpulkan dari sekian ragam jawaban atas pertanyaan tersebut dalam dua kategori; (1) aspek identitas sosial dan (2) atribusi personal. Sebagian dari kita akan menjawab, Saya adalah arsitek, penulis, mahasiswa, dan lain sebagainya yang mengacu pada identitas sosial seseorang. Sebagian dari kita yang lain akan menjawab Saya periang, terbuka, pemalu, dan sebagainya yang lebih merujuk pada atribusi diri.

Sementara Rogers (2001) membagi konsep diri dalam dua kategori yang sedikit berbeda yakni (1) personal dan (2) sosial. Konsep diri personal adalah pandangan seseorang tentang dirinya sendiri dari kacamata diri, misalnya “Saya merasa sebagai seorang yang terbuka terhadap kritik.” Sedangkan konsep diri sosial berangkat dari kacamata orang lain, seperti, “Teman-teman di kampus melihat saya sebagai orang yang keras kepala,” biasanya kalimat ini akan berlanjut dengan koreksi dari pandangan dirinya sendiri seperti “…padahal saya hanya mempertahankan pendapat saya saja.” Atau justru kalimat yang membenarkan pandangan lingkungan terhadap diri, seperti “…memang saya merasa susah menerima perbedaan sih..” Rogers menambahkan bahwa konsep diri individu yang sehat adalah ketika konsiten dengan pikiran, pengalaman dan perilaku. Konsep diri yang kuat bisa mendorong seseorang menjadi fleksibel dan memungkinkan ia untuk berkonfrontasi dengan pengalaman atau ide baru tanpa merasa terancam.

Lebih lanjut, pembahasan konsep diri membawa kita pada self-esteem, sebagai evaluasi atau sikap yang dipegang tentang diri sendiri baik dalam wilyah general maupun spesifik. Para ahli psikologi mengambil perbandingan antara konsep diri dengan konsep diri ideal atau yang diinginkan. Semakin kecil perbedaan atau diskrepansi antara keduanya, semakin tinggi self-esteem seseorang, “He/she is what he/she wants to be.” Salah satu hasil yang dituju dalam terapi Rogerian (self-centered therapy) adalah peningkatan self-esteem atau menurunkan gap antara diri dan diri ideal dalam seseorang.

Budaya & Perkembangan Budaya

Satu lagi yang perlu dipertimbangkan adalah faktor budaya. Perbedaan budaya memiliki pengaruh pada individu dalam menilai pengalaman emosi. Studi menunjukkan, di masyarakat kolektif, self critical menjadi norma, sementara di masyarakat individual, self enhancement yang berlaku (Baron & Byrne,2000). Hal ini memberikan sedikit petunjuk tentang apa yang menjadi obyek perhatian individu dalam berpikir, bersikap dan bertindak. Apakah memang faktor eksternal yang lebih menentukan kecemasan remaja di masyarakat kolektif seperti Indonesia, di mana individu akan sangat terganggu jika tidak bisa memenuhi aturan main yang berkembang dengan lingkungan terutama teman sebaya? Ataukah justru pencapaian diri sudah mencuri perhatian remaja sebagai dampak dari era keterbukaan dengan kecanggihan teknologi informasi?

Masih terbuka banyak jalan untuk memahami kecemasan yang dialami remaja. Melengkapi studi Laugesen, self-efficacy, self-concept, self-esteem dan budaya menanti untuk digali khususnya pada remaja di Indonesia.

_________________________

Referensi:

Baron, Robert A, & Byrne, Donn (2000) Social psychology-ninth edition. Boston; Allyn and Bacon.

Brown, Ulysses J. (2005) College students and AIDS awareness: the effects of condom perception and self-efficacy. College Student Journal, March 2005.

Laugesen, Nina (2003) Understanding adolescent worry: the application of a cognitive model. Journal of Abnormal Child Psychology, Feb.2003

Perkins, daniel F. (2000) Resiliency and trhiving in family and youth. Vol.1.No.1,March 2000

Rogers,Carl (2001) Gale encyclopedia of psychology, 2nd ed. Gale Group


Mengenal cara belajar Anak


Oleh : M.Nasrudin

Jakarta, 28 Februari2009






Setiap individu adalah unik. Artinya setiap individu memiliki perbedaan antara yang satu dengan yang lain. Perbedaan tersebut bermacam-macam, mulai dari perbedaan fisik, pola berpikir dan cara-cara merespon atau mempelajari hal-hal baru. Dalam hal belajar, masing-masing individu memiliki kelebihan dan kekurangan dalam menyerap pelajaran yang diberikan. Oleh karena itu dalam dunia pendidikan dikenal berbagai metode untuk dapat memenuhi tuntutan perbedaan individu tersebut. Di negara-negara maju sistem pendidikan bahkan dibuat sedemikian rupa sehingga individu dapat dengan bebas memilih pola pendidikan yang sesuai dengan karakteristik dirinya.


Di Indonesia seringkali kita mendengar keluhan dari orangtua yang merasa sudah melakukan berbagai cara untuk membuat anaknya menjadi "pintar". Orangtua berlomba-lomba menyekolahkan anak-anaknya ke sekolah-sekolah terbaik. Selain itu anak diikutkan dalam berbagai kursus maupun les privat yang terkadang menyita habis waktu yang seharusnya bisa dipergunakan anak atau remaja untuk bermain atau bersosialisasi dengan teman-teman sebayanya. Namun demikian usaha-usaha tersebut seringkali tidak membuahkan hasil seperti yang diharapkan, bahkan ada yang justru menimbulkan masalah bagi anak dan remaja.


Apa sebenarnya yang terjadi? Mengapa anak-anak tersebut tidak kunjung-kunjung pintar? Salah satu faktor yang dapat menjadi penyebabnya adalah ketidaksesuaian cara belajar yang dimiliki oleh sang anak dengan metode belajar yang diterapkan dalam pendidikan yang dijalaninya termasuk kursus atau les privat. Cara belajar yang dimaksudkan disini adalah kombinasi dari bagaimana individu menyerap, lalu mengatur dan mengelola informasi.


Otak Sebagai Pusat Belajar


Otak manusia adalah kumpulan massa protoplasma yang paling kompleks yang ada di alam semesta. Satu-satunya organ yang dapat mempelajari dirinya sendiri dan jika dirawat dengan baik dalam lingkungan yang menimbulkan rangsangan yang memadai, otak dapat berfungsi secara aktif dan reaktif selama lebih dari seratus tahun. Otak inilah yang menjadi pusat belajar sehingga harus dijaga dengan baik sampai seumur hidup agar terhindar dari kerusakan.

Menurut MacLean, otak manusia memiliki tiga bagian dasar yang seluruhnya dikenal sebagai triune brain/three in one brain (dalam DePorter & Hernacki, 2001). Bagian pertama adalah batang otak, bagian kedua sistem limbik dan yang ketiga adalah neokorteks.

Batang otak memiliki kesamaan struktur dengan otak reptil, bagian otak ini bertanggungjawab atas fungsi-fungsi motorik-sensorik-pengetahuan fisik yang berasal dari panca indra. Perilaku yang dikembangkan bagian ini adalah perilaku untuk mempertahankan hidup, dorongan untuk mempertahankan spesies.

Disekeliling batang otak terdapat sistem limbik yang sangat kompleks dan luas. Sistem ini berada di bagian tengah otak manusia. Fungsinya bersifat emosional dan kognitif yaitu menyimpan perasaan, pengalaman yang menyenangkan, memori dan kemampuan belajar. Selain itu sistem ini mengatur bioritme tubuh seperti pola tidur, lapar, haus, tekanan darah, jantung, gairah seksual, temperatur, kimia tubuh, metabolisme dan sistem kekebalan. Sistem limbik adalah panel kontrol dalam penggunaan informasi dari indra penglihatan, pendengaran, sensasi tubuh, perabaan, penciuman sebagai input yang kemudian informasi ini disampaikan ke pemikir dalam otak yaitu neokorteks.

Neokorteks terbungkus di sekitar sisi sistem limbik, yang merupkan 80% dari seluruh materi otak. Bagian ini merupakan tempat bersemayamnya pusat kecerdasan manusia. Bagian inilah yang mengatur pesan-pesan yang diterima melalui penglihatan, pendengaran dan sensasi tubuh manusia. Proses yang berasal dari pengaturan ini adalah penalaran, berpikir intelektual, pembuatan keputusan, perilaku normal, bahasa, kendali motorik sadar, dan gagasan non verbal. Dalam neokorteks ini pula kecerdasan yang lebih tinggi berada, diantaranya adalah : kecerdasan linguistik, matematika, spasial/visual, kinestetik/perasa, musikal, interpersonal, intrapersonal dan intuisi.


Karakteristik Cara Belajar


Berdasarkan kemampuan yang dimiliki otak dalam menyerap, mengelola dan menyampaikan informasi, maka cara belajar individu dapat dibagi dalam 3 (tiga) kategori. Ketiga kategori tersebut adalah cara belajar visual, auditorial dan kinestetik yang ditandai dengan ciri-ciri perilaku tertentu. Pengkategorian ini tidak berarti bahwa individu hanya yang memiliki salah satu karakteristik cara belajar tertentu sehingga tidak memiliki karakteristik cara belajar yang lain. Pengkategorian ini hanya merupakan pedoman bahwa individu memiliki salah satu karakteristik yang paling menonjol sehingga jika ia mendapatkan rangsangan yang sesuai dalam belajar maka akan memudahkannya untuk menyerap pelajaran. Dengan kata lain jika sang individu menemukan metode belajar yang sesuai dengan karakteristik cara belajar dirinya maka akan cepat ia menjadi "pintar" sehingga kursus-kursus atau pun les private secara intensif mungkin tidak diperlukan lagi.

Adapun ciri-ciri perilaku individu dengan karakteristik cara belajar seperti disebutkan diatas, menurut DePorter & Hernacki (2001), adalah sebagai berikut:


1.

Karakteristik Perilaku Individu dengan Cara Belajar Visual



Individu yang memiliki kemampuan belajar visual yang baik ditandai dengan ciri-ciri perilaku sebagai berikut:



  • rapi dan teratur

  • berbicara dengan cepat

  • mampu membuat rencana jangka pendek dengan baik

  • teliti dan rinci

  • mementingkan penampilan

  • lebih mudah mengingat apa yang dilihat daripada apa yang didengar

  • mengingat sesuatu berdasarkan asosiasi visual

  • memiliki kemampuan mengeja huruf dengan sangat baik

  • biasanya tidak mudah terganggu oleh keributan atau suara berisik ketika sedang belajar

  • sulit menerima instruksi verbal (oleh karena itu seringkali ia minta instruksi secara tertulis)

  • merupakan pembaca yang cepat dan tekun

  • lebih suka membaca daripada dibacakan

  • dalam memberikan respon terhadap segala sesuatu, ia selalu bersikap waspada, membutuhkan penjelasan menyeluruh tentang tujuan dan berbagai hal lain yang berkaitan.

  • jika sedang berbicara di telpon ia suka membuat coretan-coretan tanpa arti selama berbicara

  • lupa menyampaikan pesan verbal kepada orang lain

  • sering menjawab pertanyaan dengan jawaban singkat "ya" atau "tidak'

  • lebih suka mendemonstrasikan sesuatu daripada berpidato/berceramah

  • lebih tertarik pada bidang seni (lukis, pahat, gambar) daripada musik

  • seringkali tahu apa yang harus dikatakan, tetapi tidak pandai menuliskan dalam kata-kata


2.

Karakteristik Perilaku Individu dengan Cara Belajar Auditorial



Individu yang memiliki kemampuan belajar auditorial yang baik ditandai dengan ciri-ciri perilaku sebagai berikut:



  • sering berbicara sendiri ketika sedang bekerja

  • mudah terganggu oleh keributan atau suara berisik

  • lebih senang mendengarkan (dibacakan) daripada membaca

  • jika membaca maka lebih senang membaca dengan suara keras

  • dapat mengulangi atau menirukan nada, irama dan warna suara

  • mengalami kesulitan untuk menuliskan sesuatu, tetapi sangat pandai dalam bercerita

  • berbicara dalam irama yang terpola dengan baik

  • berbicara dengan sangat fasih

  • lebih menyukai seni musik dibandingkan seni yang lainnya

  • belajar dengan mendengarkan dan mengingat apa yang didiskusikan daripada apa yang dilihat

  • senang berbicara, berdiskusi dan menjelaskan sesuatu secara panjang lebar

  • mengalami kesulitan jika harus dihadapkan pada tugas-tugas yang berhubungan dengan visualisasi

  • lebih pandai mengeja atau mengucapkan kata-kata dengan keras daripada menuliskannya

  • lebih suka humor atau gurauan lisan daripada membaca buku humor/komik


3.

Karakteristik Perilaku Individu dengan Cara Belajar Kinestetik



Individu yang memiliki kemampuan belajar kinestetik yang baik ditandai dengan ciri-ciri perilaku sebagai berikut:



  • berbicara dengan perlahan

  • menanggapi perhatian fisik

  • menyentuh orang lain untuk mendapatkan perhatian mereka

  • berdiri dekat ketika sedang berbicara dengan orang lain

  • banyak gerak fisik

  • memiliki perkembangan otot yang baik

  • belajar melalui praktek langsung atau manipulasi

  • menghafalkan sesuatu dengan cara berjalan atau melihat langsung

  • menggunakan jari untuk menunjuk kata yang dibaca ketika sedang membaca

  • banyak menggunakan bahasa tubuh (non verbal)

  • tidak dapat duduk diam di suatu tempat untuk waktu yang lama

  • sulit membaca peta kecuali ia memang pernah ke tempat tersebut

  • menggunakan kata-kata yang mengandung aksi

  • pada umumnya tulisannya jelek

  • menyukai kegiatan atau permainan yang menyibukkan (secara fisik)

  • ingin melakukan segala sesuatu


Dengan mempertimbangkan dan melihat cara belajar apa yang paling menonjol dari diri seseorang maka orangtua atau individu yang bersangkutan (yang sudah memiliki pemahaman yang cukup tentang karakter cara belajar dirinya) diharapkan dapat bertindak secara arif dan bijaksana dalam memilih metode belajar yang sesuai. Bagi para remaja yang mengalami kesulitan belajar, cobalah untuk mulai merenungkan dan mengingat-ingat kembali apa karakteristik belajar anda yang paling efektif. Setelah itu cobalah untuk membuat rencana atau persiapan yang merupakan kiat belajar anda sehingga dapat mendukung agar kemampuan tersebut dapat terus dikembangkan. Salah satu cara yang bisa digunakan adalah dengan memanfaat berbagai media pendidikan seperti tape recorder, video, gambar, dll. Selamat mencoba. Semoga bermanfaat. (jp)


_____________________